aku punya empat musim di pohon
sepi yang rindang dedaun. setiap musim
ada yang gugur, bertumbuh,
berwarna, dan redup sama sekali

pohon itu sepertiku–berbeda ranting,
dahan, dan dedaunnya–mereka,
sama tak penurut seperti empat
musim berganti semaunya

pernah suatu ketika, pohon itu
gundul segundulgundulnya tanpa
penutup daun selembar pun

ranting dan dahannya, pun juga begitu
ia sepi di ujung paling ujung seperti
mau sendiri menyepi paling sepi

lama ia tak mekar, tak bertumbuh
dan redup di makan usia. ketika
hujan lelah bersedih sekadar
menyemangatinya,ia baru sadar.
ada banyak musim lain selain
empat musim miliknya

kawin, pisah, sakit, dan mati. pada
akhirnya ia tak memilih yang terakhir.
hanya soal waktu, katanya. tunggu aku
menambah tiga musim lagi, begitu bisiknya lagi

pohon itu sepertiku, masih menunggu tiga
musim lagi, belum juga saatnya datang