aku ingin mengadu sedih yang sedu dan sedan.
sayapku setengah patah diterkam di balik semak
dari mata-hati mereka yang awas. ingin jauh dari
pikuk dan pekik yang mulai menjerit, sembunyi dari
sembilu yang menyayat pelan dan perlahan

itulah barangkali. tuhan memperhatikan, cuma enggan
memberitahu. bila waktu jawabannya kudapati,
mungkin selepas terbang setinggi langit yang teduh