nama  bagimu ,  juga  perihal  ukuran

ia ,  seperti  kata  orang – orang

membilang , wajah  kita  cocok

serasi , persis  serupa  jodoh

 

kau  menolak  saya

sebab ,  pernah  kau  berulangkali

bebal  mencocokkan  namaku  di ujung namamu

dan kitapun mencoba luruh pada benci yang bersemayam di hati
sebab, rhamadan itu datang sekali dari tahun yang terus berganti
ia bukan sembarang ujian yang datang dari kitab kita-tempat berpijak
sesanggup apa kau menahannya, bisa tak sebanding dari malam yang kaudapatkan

tapi tak ada tanda kapan kau beruntung mendapatkan malam-Nya
ia hanya dijanjikan -kelak barangkali, saat tubuh menyatu dengan tanah

Itu sebab, juga mengapa penceramah selalu berujar bulan ini hanya sekali
siapa yang tau, tahun berganti tidak akan ada lagi….

serupa Batu bata yang buta berjejer rapi kau ikat
di atapatap fondasi kukuh kuat tak terencana

pernah kau mengharap semoga ditumbuhi gerigi gigi
yang paling kuat sekalipun, yang tak hanya bisa memotong
wortel, keju curian atau senyum khas merekah bercahaya

hehe

*ting–ting–ting*

sekali lagi

*ting–ting–ting*

itu seksi sayang..

masih saja ia merenda gusar memaksa senyum merekah di pikuk ramai pembeli. senyum adalah segalanya, sebab begitu ia tak merasa asing menjaja ikan asin dagangannya. cecunguk kecil yang beterbangan di deret gantung ikan asin hampir hilang dari gusarnya. sebab matanya terus awas mengancam usir sekali tiup dari mulut yang kering

saya masih ingat kalimat singkat di buku jadwalmu tentang
kunangkunang yang membilang sejenis kumbang bercahaya
kau menggambarnya merdu sekali serupa kicau burung malam
juga selihai kita menguntitnya di pematang sunyi belakang rumah

kalimat itu hanya selintas di lembaran depan buku jadwal
sesekali kaurindu di sebab sibukmu masih juga kauliat
coretan tangan tentang kunang kenang di kening kita

dua hari lalu mereka masih bertemu, di halte gerbong kereta. Bercerita tentang puisi. Perempuan itu lalu memberi buku puisi itu kepadanya, si lelaki. Keduanya berjanji untuk kembali bertemu dua tahun dari sekarang, karena sesuatu dan lain hal.

dua tahun berlalu

perempuan itu menunggunya masih di halte gerbong kereta persis dua tahun lalu. tak ada yang berubah di tempat itu. kecuali tempat duduk halte yang berubah warna. si lelaki bukannya ingkar. tetapi hidup tak seperti puisi yang mengalir, dia memutuskan untuk tidak datang dan tidak akan mengingatnya lagi.

dan suatu ketika, saat hidupnya betulbetul jatuh dan rapuh karena rindu dan bersalah. dibukanya buku puisi pemberian perempuan itu setelah setahun lewat dari janji bertemu di gerbong kereta :

puisi tak selalu mengalir seperti derasnya air sungai sebagaimana hidup, dia seperti puisi yang sekejap bisa berubah dia akan melambat kala kau bersedih, juga akan mengalir deras kala kau bahagia, karena hidup seperti puisi, juga ada kebetulan

suatu ketika

si lelaki menuju kantornya. saat hujan tibatiba turun, berteduhlah dia di halte itu. Si perempuan sejak sebulan lalu, setengah jam dari kesehariannya di habiskan di halte itu hanya untuk menunggu bus yang akan ditumpanginya

di tempat duduk halte, kebetulan mempertemukan mereka. kali ini karena hujan……

kado apa yang kauberi
sementara,
di lesung kiri samping bibir
sumbingnya kentara sekali

simpan saja kado itu
di simpang pintu diamdiam

bersabarlah..

pasti kan dipintanya
di simpang waktu

kalau sumbingnya
di lesung kanan

ia pasti menyukainya

siapkan saja senyum sunggingmu

saya tidak pandai mengucap kado. tapi kau suka kejutan. itu sebab, saya selalu sembunyi. berharap kau bisa tebak, kejutan apa kali ini. ayo tebaklah, tebaktebak dan mereka teriak

’surpriseeeeeeee’

dan mereka bernyanyi riang, saya bernyanyi senyap
masih malumalu. tapi ini kejutan. tebaklahtebaklah

kenapa lama sekali..

ayo ayo ayo tebak

ayo ayo

ayo

mereka bilang kita belum beruntung
kado ini tinggal, kutitip di senyap nyanyianku

saya lupa pernah sekarat sama lupanya, sesering kau mengucap kalimat itu berulangulang di depan mata, hidung, dan bibir kita yang hampir berangkulan meminta saya mengatakan sebab, kau menunggu di sakit sekarat pembaringan

mengigau kau sejujurjujurnya menahan kantuk demi setia mendengar tiga kata itu. ibu saya yang baik itu, juga tak sanggup menahan air mata bukan demi saya, tapi waktu yang tak habis kaugunakan kabur di tempat kerja sejam lebih awal dan berjamjam lebih lama dari jam kantor sekalipun hingga lupa bahwa kau telat lagi berdandan lagi, kusut sekusutkusutnya, tak sadar kau cantik sebenarbenarnya

lalu, di sekaratmu tiba, entah mengapa saya mengingat kejadian itu dan berharap kau mengucap igau, lewat kalimat yang berulangulang di bibir telinga berharap bunyibunyi suara itu sampai sedalam sadarmu dan mengabulkan permohonanku mengucap tiga kata terakhir

kau mengucapnya sayang, dengan menambah sekata lain yang sesal seumur hidup tidak lupa sekata itu untuk selalu mudah mengucapnya kepada orang yang pernah hampir berangkulan bibir dengan saya selalu dan alangkah selalu..

dan kini begitu mudahnya saya ucapkan sambil menyebut namamu di nisan hati paling dalam yang kubuat khusus untukmu sayang.

di puting guling ia lelap melalap rindu perempuannya
sehabis membaca kitab kuning dan ditangisi ranjang sepi
berharap mantra perempuan datang di bantal empuk

waktu mengeja huruf kuning bantal tertawa segeligelinya
melihat ia memegang puting guling di tangan kiri bantal tertawa itu
hanya jadi alas duduk dibelaibelai di puting mantra.

semalam suntuk ia terlelaplalap oleh cecer liur mencecar di puting bantal guling

Halaman Berikutnya »