nama bagimu , juga perihal ukuran
ia , seperti kata orang – orang
membilang , wajah kita cocok
serasi , persis serupa jodoh
kau menolak saya
sebab , pernah kau berulangkali
bebal mencocokkan namaku di ujung namamu
Oktober 27, 2009
nama bagimu , juga perihal ukuran
ia , seperti kata orang – orang
membilang , wajah kita cocok
serasi , persis serupa jodoh
kau menolak saya
sebab , pernah kau berulangkali
bebal mencocokkan namaku di ujung namamu
Agustus 23, 2009
dan kitapun mencoba luruh pada benci yang bersemayam di hati
sebab, rhamadan itu datang sekali dari tahun yang terus berganti
ia bukan sembarang ujian yang datang dari kitab kita-tempat berpijak
sesanggup apa kau menahannya, bisa tak sebanding dari malam yang kaudapatkan
tapi tak ada tanda kapan kau beruntung mendapatkan malam-Nya
ia hanya dijanjikan -kelak barangkali, saat tubuh menyatu dengan tanah
Itu sebab, juga mengapa penceramah selalu berujar bulan ini hanya sekali
siapa yang tau, tahun berganti tidak akan ada lagi….
Juli 14, 2009
serupa Batu bata yang buta berjejer rapi kau ikat
di atapatap fondasi kukuh kuat tak terencana
pernah kau mengharap semoga ditumbuhi gerigi gigi
yang paling kuat sekalipun, yang tak hanya bisa memotong
wortel, keju curian atau senyum khas merekah bercahaya
hehe
*ting–ting–ting*
sekali lagi
*ting–ting–ting*
itu seksi sayang..
Juni 22, 2009
masih saja ia merenda gusar memaksa senyum merekah di pikuk ramai pembeli. senyum adalah segalanya, sebab begitu ia tak merasa asing menjaja ikan asin dagangannya. cecunguk kecil yang beterbangan di deret gantung ikan asin hampir hilang dari gusarnya. sebab matanya terus awas mengancam usir sekali tiup dari mulut yang kering
Juni 22, 2009
saya masih ingat kalimat singkat di buku jadwalmu tentang
kunangkunang yang membilang sejenis kumbang bercahaya
kau menggambarnya merdu sekali serupa kicau burung malam
juga selihai kita menguntitnya di pematang sunyi belakang rumah
kalimat itu hanya selintas di lembaran depan buku jadwal
sesekali kaurindu di sebab sibukmu masih juga kauliat
coretan tangan tentang kunang kenang di kening kita
Juni 22, 2009
dua hari lalu mereka masih bertemu, di halte gerbong kereta. Bercerita tentang puisi. Perempuan itu lalu memberi buku puisi itu kepadanya, si lelaki. Keduanya berjanji untuk kembali bertemu dua tahun dari sekarang, karena sesuatu dan lain hal.
dua tahun berlalu
perempuan itu menunggunya masih di halte gerbong kereta persis dua tahun lalu. tak ada yang berubah di tempat itu. kecuali tempat duduk halte yang berubah warna. si lelaki bukannya ingkar. tetapi hidup tak seperti puisi yang mengalir, dia memutuskan untuk tidak datang dan tidak akan mengingatnya lagi.
dan suatu ketika, saat hidupnya betulbetul jatuh dan rapuh karena rindu dan bersalah. dibukanya buku puisi pemberian perempuan itu setelah setahun lewat dari janji bertemu di gerbong kereta :
puisi tak selalu mengalir seperti derasnya air sungai sebagaimana hidup, dia seperti puisi yang sekejap bisa berubah dia akan melambat kala kau bersedih, juga akan mengalir deras kala kau bahagia, karena hidup seperti puisi, juga ada kebetulan
suatu ketika
si lelaki menuju kantornya. saat hujan tibatiba turun, berteduhlah dia di halte itu. Si perempuan sejak sebulan lalu, setengah jam dari kesehariannya di habiskan di halte itu hanya untuk menunggu bus yang akan ditumpanginya
di tempat duduk halte, kebetulan mempertemukan mereka. kali ini karena hujan……
Juni 22, 2009
kado apa yang kauberi
sementara,
di lesung kiri samping bibir
sumbingnya kentara sekali
simpan saja kado itu
di simpang pintu diamdiam
bersabarlah..
pasti kan dipintanya
di simpang waktu
kalau sumbingnya
di lesung kanan
ia pasti menyukainya
siapkan saja senyum sunggingmu
Juni 22, 2009
saya tidak pandai mengucap kado. tapi kau suka kejutan. itu sebab, saya selalu sembunyi. berharap kau bisa tebak, kejutan apa kali ini. ayo tebaklah, tebaktebak dan mereka teriak
’surpriseeeeeeee’
dan mereka bernyanyi riang, saya bernyanyi senyap
masih malumalu. tapi ini kejutan. tebaklahtebaklah
kenapa lama sekali..
ayo ayo ayo tebak
ayo ayo
ayo
mereka bilang kita belum beruntung
kado ini tinggal, kutitip di senyap nyanyianku
Juni 22, 2009
saya lupa pernah sekarat sama lupanya, sesering kau mengucap kalimat itu berulangulang di depan mata, hidung, dan bibir kita yang hampir berangkulan meminta saya mengatakan sebab, kau menunggu di sakit sekarat pembaringan
mengigau kau sejujurjujurnya menahan kantuk demi setia mendengar tiga kata itu. ibu saya yang baik itu, juga tak sanggup menahan air mata bukan demi saya, tapi waktu yang tak habis kaugunakan kabur di tempat kerja sejam lebih awal dan berjamjam lebih lama dari jam kantor sekalipun hingga lupa bahwa kau telat lagi berdandan lagi, kusut sekusutkusutnya, tak sadar kau cantik sebenarbenarnya
lalu, di sekaratmu tiba, entah mengapa saya mengingat kejadian itu dan berharap kau mengucap igau, lewat kalimat yang berulangulang di bibir telinga berharap bunyibunyi suara itu sampai sedalam sadarmu dan mengabulkan permohonanku mengucap tiga kata terakhir
kau mengucapnya sayang, dengan menambah sekata lain yang sesal seumur hidup tidak lupa sekata itu untuk selalu mudah mengucapnya kepada orang yang pernah hampir berangkulan bibir dengan saya selalu dan alangkah selalu..
dan kini begitu mudahnya saya ucapkan sambil menyebut namamu di nisan hati paling dalam yang kubuat khusus untukmu sayang.
Juni 22, 2009
di puting guling ia lelap melalap rindu perempuannya
sehabis membaca kitab kuning dan ditangisi ranjang sepi
berharap mantra perempuan datang di bantal empuk
waktu mengeja huruf kuning bantal tertawa segeligelinya
melihat ia memegang puting guling di tangan kiri bantal tertawa itu
hanya jadi alas duduk dibelaibelai di puting mantra.
semalam suntuk ia terlelaplalap oleh cecer liur mencecar di puting bantal guling