lama ia berpikir, lemari serupa tempat
kenang, seperti berlembar lembar
pakaian yang melekat di tubuhnya
tapi, betapa pun sakit, tak ada guna
ia menyimpan kesedihan dalam laci
lemari hati yang paling sembunyi
saban kali ia membuka laci paling
sembunyi sekalipun, sedih
dan menangislah ia sekenanya.
sadar tak harus membeli lemari
baru, ia hanya perlu mengganti isinya,
seperti rupa-rupa kenangan, bagai
berlembar-lembar pakaian tua yang
akan usang dimakan waktu.
suatu kali, pernah ia berniat mengganti
lemari dengan baru, sebaru-barunya
ia berjanji, mengisi lemari itu, juga
dengan kenangan yang baru pula.
pada akhirnya, ia tak tega memilih di antara
keduanya. sampai sekarang, ia selalu pura
pura lupa, kalau pernah memiliki lemari…