kelak, rahasia itu, perihal sarapan shubuh diamdiam,
kita bincang ulang di meja perjamuan terbuka.
ditemani gelas-gelas putih berhak tinggi, bagai pelacur,
memacu umbar tawa-tawa kita, lakon pemegang kunci.

ini perihal rahasia, lama, rapat kita susun bagai teka dan
teki.  sangat diam kita jaga, bersangkut paut pelakon
lain, para pemegang kunci. saling sembunyi di balik suara
masing-masing. salah langkah, kita saling melaknat, tak
termaafkan, tak terduga, ada tuhan di sana juga diamdiam.

di sini, lewat perjamuan itu, dua tahun lalu, mereka membuka
rahasia, dua pelakon utama. kita, hanya pelakon pendukung,
penjaga rahasia, dua hati mereka. terimakasih tuhan, dan semoga..

tuan, sebagai rakyat kecil kami tahu
tuan adalah penguasa berjarak bumi
dan langit. hulubalang kauangkat begitu
saja, supaya bahasa kami, yang rakyat
kecil bisa mudah sampai ke telingamu.

meski telingamu, kerap disumbat oleh
hululabalang, juga bukan tanpa sebab.

sumbat-menyumbat berusut kaubikin
seenaknya atas titah-titahmu. hulubalang,
wajar takut dengan titah belakang tuan.

lihatlah makanan kami, tak sebanding
dengan biaya ransum atas titah seenaknya
tuan-tuan sekalian. juga, lihatlah seisi rumah
kami, tak sebanding dengan titah biaya naik
kereta terbang tuan-tuan.

kami masih memanggul janji tuan-tuan,
sembari menunggu waktu, bumi dan
langit bergesek, berlalu,dan petir menggelegar
selayak kiamat di kitab suci yang tiba saja datangnya

di situ kami menagih janji, rakyat kecil,
bisa menjelma seperti tuhan tanpa tuan,
penguasa sebenarbenarnya .. .. ..

ada sesuatu di bulan ini yang tak bisa saya tulis. tentang
letak buku-buku, cat lukis, pigura, yang berserakan ditutupi
butir-butir debu. juga, sebuah buku catatan harian dengan
halaman yang terbuka, tentang hari dan angka di penghujung bulan :

“jika aku pergi, tak kembali selamanya, biarkan kamar ini
menjadi fondasi kekal, jejak kita pernah berdua bersama
saksisaksi bisu kesayanganku, dan tak kunjung berani kau pindah”

ruangan itu dimakan usia, seperti bencana gunung meletus,
menghempas debu kesana dan kemari. ruang itu tancap terkenang
di kepala, pada suatu ketika. tiga tahun bersela pada september
yang lewat. Seperti kau, saya mengenang kita di kamar tua itu
pada bulan berikutnya. selalu,  setelah, september yang lewat.

Kita, sama menyimpan bekas selongsong,
karena luka tanpa sengaja. Mereka, peluru
yang berhamburan di sekujur tubuh. Tak ada
berbekas, tapi menyayat dan perih, memakai
peredam barangkali. Dan, seperti pepatah
kuno selalu berkata, katakanlah, katakanlah,
ia pahit? memang. Saban, libur, itu hari, kita
malas saling menyapa. Sebab, di waktu-waktu
seperti itu, aku dan kau memang saling enggan
berurusan dengan kepala yang penat bermain di
sekujur tubuh yang kita bikin samasama tanpa sadar

Ya, itulah luka.

kita, adalah dua butir kelereng yang
tak kuasa menahan nasib,menggelinding
sana  kemari di jemari anak kecil.

kita, adalah dua orang dewasa yang
hanya menjelma, tapi, tak punya kuasa
atas pikiran. dan kita, manja melepas
pasrah menjadi kepala yang kanak-kanak.

di manakah kau dan aku, masihkah
di saku celana kanan anak itu, seperti
kemarin, kita tak sempat pamit di
antara sepasang saku itu, yang
tak sempat berucap salam, kecuali
kita bergelinding di atas tanah pijakan
kita bermain. hanya itu-hanya
itu, waktu kita bebas bertemu,

hai kelereng betinaku..

masihkah dikau di saku sebelah?

aku punya empat musim di pohon
sepi yang rindang dedaun. setiap musim
ada yang gugur, bertumbuh,
berwarna, dan redup sama sekali

pohon itu sepertiku–berbeda ranting,
dahan, dan dedaunnya–mereka,
sama tak penurut seperti empat
musim berganti semaunya

pernah suatu ketika, pohon itu
gundul segundulgundulnya tanpa
penutup daun selembar pun

ranting dan dahannya, pun juga begitu
ia sepi di ujung paling ujung seperti
mau sendiri menyepi paling sepi

lama ia tak mekar, tak bertumbuh
dan redup di makan usia. ketika
hujan lelah bersedih sekadar
menyemangatinya,ia baru sadar.
ada banyak musim lain selain
empat musim miliknya

kawin, pisah, sakit, dan mati. pada
akhirnya ia tak memilih yang terakhir.
hanya soal waktu, katanya. tunggu aku
menambah tiga musim lagi, begitu bisiknya lagi

pohon itu sepertiku, masih menunggu tiga
musim lagi, belum juga saatnya datang

aku ingin mengadu sedih yang sedu dan sedan.
sayapku setengah patah diterkam di balik semak
dari mata-hati mereka yang awas. ingin jauh dari
pikuk dan pekik yang mulai menjerit, sembunyi dari
sembilu yang menyayat pelan dan perlahan

itulah barangkali. tuhan memperhatikan, cuma enggan
memberitahu. bila waktu jawabannya kudapati,
mungkin selepas terbang setinggi langit yang teduh

kukira tentang detik, menit, dan jam
yang berdetak, atau abu rokok yang
menghabiskan berbatang-batang
tempatku menunggu. di matamu, sebentar
itu adalah mereka, empat tokoh bumi
yang berlakon takjub  menaklukkanmu

‘matahari perlahan mengecup bibir
dermaga, dan tenggelam setengah
dipeluk lautan, lalu menghilang
dibalik malam’. ah, kata-kata ini
selalu saja terucap  dari mulutnya.

terus, kapan kita menjelma ke
dalam lakon singkat itu sayang?

aku ingin memindahkan sebelah mataku di bagian pelipis kanan. biar puas
menatapmu meski hanya sebelah mata. masih berpura-pura sibuk, pun aku
mencari cara ingin melihat matamu yang ternyata juga sedang menatapku

tidak! engkau masih enggan menggeser pandangan. tapi supaya kausadar,
sengaja aku menjatuhkan lenganku di atas lenganmu. hanya berhitung detik,
engkau tak lagi menggeser pandang. lebih terang tepat di depan, wajahku dan
wajahmu saling beradu. di malam hari tidur kita pasti nyenyak tanpa sakit. sebab
waktu, urat leher-kepala kita pernah keliru saling memaksa mencuri pandang

kalian berbagi keranjang, tumpah-menumpah isi dalam hati.
setelah lega berlalu, belum puas serta kautumpah kepada ia
sekadar nasehat penghibur, bermain pada sedu yang sedan.

tapi selalu dalam lakon, penghibur adalah pengganti hambar
yang baik menghapus segala sakit ke berbagai penjuru.
ia bukan pelaku, hanya perantara seperti keranjang sampah

esoknya, kalian bisa datang dengan sedih dan bahagia. sedang
ia, telah habis. tak ada keranjang malam ini. semuanya telah lelap
ke tempat pembuangan terakhir. maka ia memilih berbagi sendiri
sebab tak ada lagi keranjang yang bisa dibagi. ia selalu lupa
pepatah lama ini :

percayalah masih ada kereta yang akan lewat

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.